Menu

Saya bekerja di...

Lanjutkan

Konten sedang disesuaikan
berdasarkantipebisnis Anda

Image

Harga Pokok Penjualan (HPP) atau Cost of Goods Sold (COGS) adalah urat nadi dalam operasional bisnis F&B. Bagi chef, cara hitung HPP makanan merupakan indikator efisiensi dapur, sementara bagi pemilik bisnis, ini menjadi penentu kesehatan finansial usaha.

Menghitung HPP bukan sekadar kalkulasi harga bahan baku dan keuntungan, melainkan sebuah strategi presisi untuk menetapkan harga yang tepat pada menu Anda agar tetap kompetitif tanpa mengorbankan margin keuntungan.

Harga bahan baku yang fluktuatif sering kali menjadi tantangan dalam industri bisnis F&B, terutama di kota dengan dinamika harga tinggi seperti Jakarta. Tanpa perhitungan HPP yang akurat, pelaku bisnis berisiko mengalami hidden cost di mana restoran terlihat ramai, namun secara finansial tidak menghasilkan profit yang sehat. Oleh karena itu, memahami komponen dan cara hitung HPP makanan yang tepat adalah langkah fundamental untuk mencapai cuan maksimal.

Apa Saja Komponen yang Menentukan Cara Hitung HPP Makanan?

Sebelum masuk ke rumus perhitungan, penting untuk membedakan antara total pengeluaran operasional dengan komponen yang secara langsung membentuk HPP. Dalam bisnis kuliner, terutama di kota seperti Jakarta dengan biaya sewa dan harga bahan baku yang tinggi, kesalahan dalam memisahkan komponen ini dapat langsung menggerus margin keuntungan.

Berikut adalah beberapa komponen utama HPP yang perlu Anda perhatikan:

  • Food cost atau biaya bahan baku: Harga untuk keseluruhan bahan baku, mencakup bumbu, kondimen, dan garnish.  
  • Kemasan: Dus, paper wrap, atau alat makan sekali pakai.
  • Limbah produksi atau wastage: Estimasi penyusutan bahan saat proses pembersihan atau penyimpanan (biasanya sekitar 2-3%).

Wastage sebaiknya dihitung berdasarkan kondisi sebenarnya dari setiap bahan, bukan menggunakan satu persentase yang sama untuk seluruh menu. Daging, sayuran, dan bahan segar lainnya dapat memiliki tingkat penyusutan yang berbeda.

Seperti yang terlihat pada gambar, tangan sedang memegang kalkulator di atas bahan sayuran

Apa Bedanya HPP Makanan dan Biaya Operasional Restoran?

HPP makanan mencakup biaya yang secara langsung digunakan untuk membuat dan menyajikan satu menu, mulai dari bahan baku dan kemasan hingga wastage. Sementara itu, biaya operasional merupakan pengeluaran untuk menjalankan restoran secara keseluruhan, seperti sewa tempat, gaji karyawan, listrik, air, pemasaran, perawatan peralatan, dan administrasi.

Pemisahan keduanya penting agar kondisi bisnis dapat terlihat lebih jelas. HPP membantu restoran menghitung food cost dan margin kotor setiap menu, sedangkan biaya operasional digunakan untuk mengetahui keuntungan bisnis setelah seluruh pengeluaran diperhitungkan.

Berapa Persen Food Cost dan Margin Kotor yang Ideal?

Berapa persen food cost yang ideal? Secara umum, restoran dapat menetapkan target food cost sekitar 25–35% dari harga jual. Dengan kisaran tersebut, gross profit atau margin keuntungan kotor yang diperoleh berada di sekitar 65–75%.

Sebagai contoh, jika harga jual satu menu adalah Rp100.000 dan food cost-nya Rp30.000, persentase food cost menu tersebut adalah 30%, sedangkan gross profit-nya mencapai 70% atau Rp70.000. Nilai ini belum menjadi keuntungan bersih karena masih perlu dikurangi biaya operasional, seperti sewa tempat, gaji karyawan, listrik, air, dan pemasaran.

Angka idealnya dapat berbeda pada setiap bisnis, tergantung konsep restoran, jenis menu, harga bahan baku, serta struktur biaya. Karena itu, target food cost perlu ditetapkan dengan mempertimbangkan kemampuan setiap menu dalam menutup biaya operasional dan tetap menghasilkan keuntungan yang sehat.

Ada Berapa Cara Hitung HPP Makanan yang Digunakan di Dapur Bisnis?

Seperti yang terlihat pada gambar, seorang pebisnis sedang menghitung harga produk

Setiap skala bisnis memiliki kompleksitas yang berbeda. Berikut adalah tiga metode umum yang dapat Anda adaptasi:

1. Metode markup pricing  

Metode ini sederhana dan sering digunakan oleh pelaku bisnis UMKM atau street food dengan struktur biaya yang tidak terlalu kompleks. Sangat ideal bagi pemula atau bisnis dengan produk minimalis.   

Rumus:
HPP = Biaya Bahan Baku + (Biaya Bahan Baku x % Markup) 

Contohnya, jika Anda menjual bakso goreng dengan modal bahan Rp8.000 dan menginginkan keuntungan dua kali lipat (markup 100%), maka harga jualnya bisa menjadi Rp16.000. Metode ini memastikan setiap item yang terjual memberikan margin kontribusi yang tetap.  

2. Metode food cost

Ini adalah metode yang paling umum digunakan di industri kuliner. Di sini, Anda menentukan harga jual berdasarkan target persentase biaya bahan baku. Biasanya metode ini digunakan pada model bisnis restoran atau kafe.

Rumus:
HPP = Total Biaya Bahan Baku ÷ Target Persentase Food Cost

Biasanya food cost ditetapkan pada angka 25–35%. Contohnya bila seporsi ayam goreng kuning yang populer di Jakarta, Bandung, dan Semarang membutuhkan biaya bahan baku Rp35.000 dengan target food cost 30%, maka harga jualnya adalah sekitar Rp117.000. Sisa 70% dari harga jual tersebut akan digunakan untuk menutup biaya operasional, tenaga kerja, dan laba bersih.

3. Metode prime cost

Metode ini sangat efektif untuk usaha kuliner yang memiliki proses produksi kompleks dan membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu. Misalnya untuk satu produk tertentu akan melewati beberapa proses, contohnya smoking, simmering, hingga pemanggangan lama, sehingga Anda wajib menghitung upah koki yang mengerjakan menu ini secara spesifik. Meski terkesan rumit, namun metode ini efektif untuk memastikan setiap bahan, bumbu, hingga biaya tenaga kerja ditanggung oleh konsumen Anda.

Dalam manajemen bisnis kuliner, batas aman prime cost adalah persentase maksimal dari pendapatan yang boleh digunakan untuk membayar bahan baku dan tenaga kerja. Biasanya angka yang umum digunakan sebagai standar adalah 60% atau kurang.

Bila prime cost yang merupakan gabungan dari biaya food cost dan biaya tenaga kerja berada di atas 60%, maka bisnis Anda masuk ke dalam zona bahaya atau istilahnya rugi bandar.

Rumus:
Prime cost = food cost + biaya tenaga kerja

HPP = prime cost ÷ 60% 

Berikut contoh cara hitung HPP makanan untuk 20 porsi produk gepuk daging khas Bandung dengan estimasi proses produksi 4 jam:

  • Total food cost: Rp370.000 (daging sapi, bumbu, bahan bakar)
  • Biaya tenaga kerja: Rp20.000 per jam
  • Prime cost untuk 20 porsi gepuk daging: Rp370.000 + Rp80.000 = Rp450.000. Sehingga biaya per porsi adalah Rp22.500.

Agar bisnis Anda sehat, biaya prime cost per porsi seharga Rp22.500 ini maksimal hanya boleh 60% dari harga yang dibayar pelanggan.

HPP = Rp22.500 ÷ 60% = Rp37.500

Artinya prime cost seharga Rp22.500 (60%) per porsi digunakan untuk mengganti biaya bahan baku dan membayar upah tenaga kerja selama 4 jam.

Sementara selisih Rp37.500 - Rp22.500 - Rp15.000 atau 40% dari HPP dapat digunakan untuk membayar biaya tetap dan sisanya merupakan keuntungan Anda.

Tips Anti Rugi Akibat Salah Menentukan HPP

Seperti yang terlihat pada gambar, hidangan mie dalam mangkuk siap disajikan ke meja pelanggan

Agar finansial bisnis Anda tetap sehat dan bebas rugi, berikut tips menghindari kesalahan dalam menghitung HPP makanan:

1. Jangan lupa memasukkan hidden cost

Terkesan sepele, namun saat menghitung HPP makanan, mungkin Anda sering mengabaikan biaya yang terkesan kecil. Misalnya seasoning (garam dan merica), kondimen (saus, kecap), dan pelengkap (sedotan, tusuk gigi). Selalu masukkan biaya-biaya yang berpotensi menjadi hidden cost ini ke dalam komponen HPP Anda.   

2. Hitung biaya penyusutan bahan atau yield

Pertimbangkan selisih biaya berat bahan saat dibeli dengan berat bersih ketika diolah. Contohnya sayuran yang dibuang bonggolnya atau daging sapi yang melewati proses trimming.

3. Selalu update harga bahan baku  

Harga bahan baku di pasar bersifat fluktuatif. Tidak memperbarui HPP saat harga daging, cabai, atau bawang merah naik akan langsung memotong margin profit Anda.

4. Pisahkan biaya operasional

HPP hanya mencakup bahan baku dan kemasan langsung. Gaji karyawan, listrik, dan sewa tempat masuk ke dalam biaya operasional, bukan HPP. 

5. Evaluasi HPP dan harga jual secara berkala

Perhitungan HPP bukan angka yang berlaku selamanya. Perubahan harga bahan baku, resep, ukuran porsi, supplier, hingga biaya operasional dapat memengaruhi margin setiap menu.

Lantas, kapan harga menu perlu dihitung ulang? Lakukan evaluasi ketika persentase food cost mulai melampaui target, keuntungan dari suatu menu terus menurun, atau terjadi perubahan signifikan pada komponen biaya. Pantau harga bahan utama setiap bulan, lalu tinjau HPP dan harga jual secara menyeluruh, misalnya setiap tiga bulan.

Dari hasil evaluasi tersebut, Anda dapat menentukan langkah yang paling tepat, seperti menyesuaikan harga jual, mengatur ulang porsi, mengganti bahan, atau bernegosiasi dengan supplier sebelum kenaikan biaya semakin menggerus margin.

Bagaimana Produk UFS Membantu Menjaga HPP Tetap Kompetitif?

Seperti yang terlihat pada gambar, chef sedang mengecek daftar bahan makanan di dapur

Menjaga HPP bukan berarti mencari bahan termurah. Tantangan utamanya adalah mengendalikan waste, waktu produksi, dan hasil masakan agar biaya setiap batch lebih mudah diprediksi. Produk UFS dapat membantu chef menyederhanakan proses tersebut tanpa mengorbankan konsistensi rasa.

1. Mengurangi waste dari proses persiapan bumbu

Penggunaan bumbu segar sering kali terkendala fluktuasi harga pasar dan kualitas yang tidak stabil. Bumbu segar juga membutuhkan proses sortir, kupas, potong, giling, dan tumis. Selain memakan waktu, proses tersebut dapat menghasilkan penyusutan bahan dan membuat biaya aktual berbeda dari perhitungan awal.

Royco Bumbu Kuning Serbaguna dapat digunakan sebagai bumbu dasar untuk berbagai menu, seperti ayam goreng, ayam bakar, dan soto. Dengan proses persiapan bumbu yang lebih ringkas, chef dapat menekan jumlah limbah produksi hingga meminimalkan risiko masakan gagal yang dapat membuat HPP jadi bengkak.

2. Meringankan beban kerja tim dapur

Ketika tim dapur harus menangani banyak pesanan, proses memasak yang terlalu panjang dapat memperlambat produksi sekaligus meningkatkan penggunaan tenaga kerja, gas, dan listrik. Produk UFS membantu chef menyiapkan rasa dasar yang lebih konsisten dengan tahapan yang lebih ringkas.

Royco Bumbu Kuah Bakso, misalnya, bisa menghadirkan rasa gurih dan aroma sumsum tulang sapi untuk produksi kuah bakso, sedangkan Royco Bumbu Ekstrak Daging Sapi membantu memperkuat karakter daging pada sup, semur, dan hidangan berkuah. Untuk menu berbasis saus, Knorr Demi Glace Sauce Mix memberikan profil brown sauce dengan perpaduan rasa daging sapi, tomat, dan mirepoix tanpa perlu membuat demi-glace dari awal.

Dengan rasa dasar dan takaran yang lebih mudah distandardisasi, chef dapat mengurangi waktu persiapan serta koreksi rasa berulang. Proses produksi pun menjadi lebih efisien, sementara hasil setiap batch dan biaya per porsinya lebih mudah dikendalikan.

3. Membuat biaya per porsi lebih mudah dihitung

Takaran bumbu yang berubah-ubah dapat menyebabkan rasa tidak konsisten sekaligus membuat biaya per porsi sulit diprediksi. Produk dari Unilever Food Solutions memiliki standar penggunaan yang membantu chef menerapkan takaran lebih seragam pada setiap batch. Misalnya, 1 bungkus Royco Bumbu Pelezat Serbaguna Rasa Sapi dapat menghasilkan sekian liter kuah soto daging.

Dengan resep dan takaran yang konsisten, chef dapat memperkirakan jumlah porsi yang dihasilkan, menghitung biaya bumbu untuk setiap sajian, dan melakukan kontrol stok dengan lebih akurat. Hal ini membantu Partners menjaga kualitas menu sekaligus memantau margin secara lebih terukur.

Terapkan cara hitung HPP makanan secara disiplin sebagai fondasi bisnis F&B Anda. Sebagai mitra profesional, UFS berkomitmen mendukung para chef dan pengusaha kuliner lewat edukasi seputar bisnis kuliner serta produk berkualitas.

Kalau ingin lebih praktis, Anda juga bisa mencoba Kalkulator Profit untuk bantu hitung keuntungan. Dengan kalkulator ini, Anda bisa lebih mudah menentukan target HPP, mendapatkan harga jual, dan memahami potensi keuntungan dengan lebih cepat dan terarah. Dengan mengetahui cara hitung HPP makanan, menetapkan harga jual makanan yang kompetitif dan strategi bisnis yang tepat, bisnis Anda tentu berpotensi untuk berkembang dan langgeng.

Home
Produk
Resep
Cart
Menu