Menu

Saya bekerja di...

Lanjutkan

Konten sedang disesuaikan
berdasarkantipebisnis Anda

closeup-woman-checking-price-foods

Pengalaman makan yang baik tidak hanya dibentuk oleh rasa. Ketepatan pesanan, kebersihan meja, kecepatan layanan, kesiapan dapur, dan cara tim menangani keluhan ikut menentukan apakah pelanggan akan kembali. Semua itu bergantung pada orang-orang yang bekerja di balik setiap transaksi.

Karena itu, service charge restoran seharusnya tidak diperlakukan sebagai angka tambahan yang muncul begitu saja pada tagihan. Jika diterapkan, kebijakannya perlu memiliki tujuan, mekanisme pembagian, dan komunikasi yang jelas. Transparansi dibutuhkan dari dua arah: pelanggan memahami apa yang dibayar, sedangkan karyawan memahami bagaimana uang tersebut dikelola.

Melalui konsep positive kitchen, Unilever Food Solutions mendorong budaya dapur yang saling menghargai serta memperkuat komunikasi, kolaborasi, dan kesejahteraan tim. Service charge memang bukan satu-satunya cara untuk membangun dapur yang positif, tetapi bisa menjadi salah satu instrumen penting ketika dirancang secara adil dan konsisten.

Apa Landasan Hukum dan Etika Service Charge di Indonesia?

Service charge restoran berbeda dari pajak atas makanan dan minuman. Dalam kerangka pajak daerah saat ini, makanan dan minuman yang disediakan restoran termasuk objek Pajak Barang dan Jasa Tertentu atau PBJT.

Tarifnya ditetapkan melalui peraturan daerah, dengan batas paling tinggi 10% menurut ketentuan nasional. Karena itu, Anda sebagai pelaku bisnis perlu memeriksa perda yang berlaku di lokasi usaha Anda, karena tidak semua kota memakai tarif yang sama.

Service charge juga merupakan biaya layanan yang ditetapkan oleh bisnis. Penerapannya perlu ditampilkan secara jelas sebelum pelanggan melakukan transaksi, misalnya pada menu, reservasi, atau informasi kasir. Hindari membuat pelanggan baru mengetahui biaya tersebut setelah tagihan keluar.

Catatan penting tentang aturan uang servis

Permenaker Nomor 7 Tahun 2016 secara spesifik mengatur uang servis pada usaha hotel dan usaha restoran di hotel. Aturan tersebut menyebut uang servis sebagai pendapatan non-upah dan mengatur pengelolaan serta pembagiannya.

Untuk restoran mandiri di luar hotel, struktur kebijakannya perlu disesuaikan dengan bentuk usaha, perjanjian kerja, peraturan perusahaan, dan regulasi setempat. Sebelum menetapkan atau mengubah skema, Anda perlu melakukan review bersama HR, akuntan, atau penasihat hukum yang Anda miliki.

Bagaimana Menentukan Persentase Service Charge yang Sesuai?

Di Indonesia, service charge restoran umumnya berada pada kisaran 5–10%. Namun, angka tersebut tidak harus sama untuk setiap bisnis. Dalam praktiknya, penentuan service charge lebih dipengaruhi oleh model layanan dan pengalaman yang diterima pelanggan dibandingkan lokasi usaha atau kota tertentu. Partners bisa mempertimbangkan beberapa hal berikut sebagai acuan.

Pertimbangan Service Charge

Sebelum Partners menetapkan persentasenya, hitung juga dampaknya terhadap total tagihan pelanggan. Pastikan biaya tersebut dicantumkan dengan jelas sejak awal dan pelanggan memahami layanan yang mereka terima.

Tips UFS: Sebelum menetapkan service charge, pahami terlebih dahulu kondisi margin bisnis Anda. Gunakan Kalkulator Profit UFS untuk memperkirakan biaya dan keuntungan setiap menu. Dengan begitu, Anda dapat memastikan harga jual sudah sehat sehingga service charge benar-benar mencerminkan nilai layanan yang diberikan, bukan digunakan untuk menutup kekurangan pada struktur harga.

asian-man-barista-wear-protective-face

Bagi Hasil yang Transparan: Menjaga Motivasi Tim Dapur dan Tim Servis

Pembagian yang terasa adil dimulai dari keterbukaan. Tim perlu memahami cara dana dihitung, siapa yang berhak menerima, dan kapan pembagian dilakukan. Penjelasan yang jelas sejak awal dapat mengurangi prasangka sekaligus membuat setiap orang merasa kontribusinya dihargai.

Keterbukaan juga memberi ruang bagi tim untuk bertanya, menyampaikan masukan, dan mengajukan koreksi jika ditemukan selisih. Kebijakan bagi hasil pun perlu disusun dengan bahasa yang mudah dipahami, termasuk ketentuan untuk karyawan baru dan karyawan yang keluar di tengah periode.

Setelah itu, pilih skema pembagian yang paling sesuai dengan cara tim Anda bekerja:

Opsi 1: Equal split

Dalam skema ini, dana dibagi rata kepada seluruh karyawan yang memenuhi kriteria. Cara ini sederhana, mudah diperiksa, dan menegaskan kepada tim bahwa pengalaman pelanggan lahir dari kerja bersama antara tim dapur dan tim servis.

Sebelum menerapkannya, pertimbangkan apakah terdapat perbedaan jam kerja, kehadiran, atau tanggung jawab yang cukup besar. Jika ada, tim mungkin merasa pembagian rata belum sepenuhnya mencerminkan kontribusi mereka.

Opsi 2: Sistem poin

Sistem poin memberi bobot pada posisi, tingkat tanggung jawab, masa kerja dalam periode tersebut, atau faktor lain yang telah disepakati. Pembagian kemudian dihitung berdasarkan jumlah poin yang diperoleh setiap anggota tim.

Agar tetap terasa adil, jelaskan cara pemberian poin dan beri ruang bagi tim untuk bertanya atau mengajukan koreksi. Kriterianya perlu terukur sehingga hasil pembagian tidak bergantung pada penilaian pribadi satu atasan.

Opsi 3: Model campuran

Model ini akan membagi sebagian dana secara merata, kemudian membagikan sisanya berdasarkan poin, kehadiran, atau jam kerja. Cara ini dapat menjaga semangat kebersamaan sekaligus menghargai perbedaan kontribusi.

Sebelum skema diterapkan, coba hitung beberapa simulasi dan diskusikan hasilnya bersama tim. Proses ini membantu menemukan pembagian yang paling masuk akal sekaligus membangun budaya kerja yang lebih terbuka dan saling menghargai.

woman-sitting-counter-sign

Bagaimana Service Charge Dapat Membantu Mengurangi Turnover?

Bagi karyawan, tambahan penghasilan tentu berarti. Namun, rasa aman juga tumbuh ketika pembagiannya jelas, jadwalnya konsisten, dan setiap orang memahami cara perhitungannya. Dalam kondisi tersebut, service charge restoran dapat menjadi salah satu alasan bagi tim untuk merasa lebih dihargai dan melihat masa depan bersama bisnis.

Kepercayaan mudah berkurang jika ketentuan berubah tanpa penjelasan atau pembagian sering terlambat. Karena itu, manfaat service charge sangat bergantung pada cara manajemen menjalankannya sebagai bagian dari sistem kerja yang sehat.

1. Membuat setiap kontribusi terasa berarti

Pengalaman pelanggan lahir dari kerja banyak orang. Kru persiapan di dapur memastikan bahan siap digunakan, cook menjaga kualitas hidangan, steward mendukung kebersihan peralatan, sedangkan server dan kasir berinteraksi langsung dengan pelanggan untuk memberikan pelayanan terbaik.

Pembagian yang melibatkan tim dapur dan servis membantu menunjukkan bahwa setiap peran saling terhubung. Tim pun dapat melihat bahwa pekerjaan mereka, termasuk yang berlangsung jauh dari pandangan pelanggan, tetap diperhitungkan dan dihargai.

2. Mendorong sense of ownership

Ketika tim memahami hubungan antara kualitas layanan, kepuasan pelanggan, dan hasil yang diterima bersama, mereka memiliki alasan lebih kuat untuk saling membantu dan menjaga standar.

Rasa memiliki akan tumbuh lebih kuat jika didukung oleh upah yang layak, pelatihan, jadwal kerja yang sehat, jalur pengembangan karier, dan kepemimpinan yang menghargai tim. Service charge melengkapi fondasi tersebut dengan memberikan manfaat yang dapat dirasakan bersama.

3. Membuka percakapan tentang performa secara lebih sehat

Evaluasi performa tidak harus menjadi percakapan yang menegangkan. Gunakan indikator yang dapat dilihat bersama, misalnya jumlah keluhan pelanggan, waktu penyelesaian pesanan, akurasi pesanan, kebersihan, dan skor kepuasan pelanggan. Bicarakan hasilnya sebagai pencapaian dan tantangan tim. Cara ini bisa membantu tim dapur dan front of house mencari solusi bersama, daripada sibuk menentukan siapa yang harus disalahkan.

Strategi service charge restoran yang baik perlu memberi kejelasan kepada semua pihak. Pelanggan memahami biaya yang dibayarkan, karyawan mengetahui cara pembagiannya, dan manajemen dapat meninjau pencatatannya dengan mudah.

Melalui positive kitchen, Unilever Food Solutions mengajak pelaku bisnis kuliner membangun lingkungan kerja yang lebih terbuka, saling menghargai, dan memperhatikan kesejahteraan tim. Ketika nilai tersebut hadir dalam kebijakan sehari-hari, service charge restoran dapat membantu tim merasa lebih dihargai sekaligus menjaga pengalaman pelanggan tetap nyaman.

Home
Produk
Resep
Cart
Menu