Menu

Saya bekerja di...

Lanjutkan

Konten sedang disesuaikan
berdasarkantipebisnis Anda

Seperti yang terlihat pada foto, ada variasi donat sourdough yang sedang viral di kota-kota besar di Indonesia.

Bagi pelaku usaha F&B, kemunculan makanan viral yang mendadak ramai dibicarakan di media sosial sering kali menjadi sinyal adanya peluang baru. Dalam hitungan jam setelah sebuah konten kuliner viral menjadi FYP (For Your Page), pengunjung sudah memadati lokasi tersebut.

Momentum ini bahkan semakin terasa intens saat long weekend, libur Hari Raya, atau liburan panjang. Namun, di balik euforia antrean panjang dan omzet meledak, tersimpan sebuah jebakan yang kerap menghantam pebisnis F&B pemula, yaitu latah tren alias FOMO (Fear of Missing Out). Padahal, tren kuliner umumnya memiliki siklus yang relatif singkat. Karena itu, penting untuk mengadopsi tren secara strategis agar dapat berkembang menjadi peluang bisnis jangka panjang.

Menakar Bisnis Viral vs Langgeng

Tak semua makanan viral potensial dijadikan bisnis utama. Anda perlu menelisik tren kuliner yang happening ini dan memahami apakah tren tersebut hanya gelombang sesaat atau punya potensi menjadi fondasi bisnis jangka panjang.

Ciri-ciri bisnis makanan viral yang rawan kandas

Sebagai pelaku kuliner, Anda perlu lebih teliti untuk mengenali perbedaan antara tren yang sustainable dan fad atau demam sesaat. Salah mengeksekusi hype bisa membuat modal Anda tertanam di aset yang usang dalam waktu 3 hingga 6 bulan. Berikut pola sebuah makanan viral cenderung berumur pendek: 

1. Mengandalkan shock factor ketimbang repeat order

Makanan yang viralnya kilat dan akan cepat “lewat” biasanya menjual aspek visual yang ekstrem. Contohnya estetika, porsi tidak biasa, atau kombinasi rasa yang aneh demi kebutuhan konten media sosial. Konsumen cenderung datang hanya untuk menuntaskan rasa penasaran dan membeli pengalaman ketimbang kebutuhan.

2. Mudah ditiru kompetitor

Bila sebuah produk dapat dengan mudah ditiru kompetitor, maka tren tersebut akan mati muda karena hiper-kompetisi akibat munculnya pemain baru dalam waktu singkat. Efeknya, perang harga tak dapat dihindari sehingga margin keuntungan hancur ketika hype sedang di puncak. Contohnya, es kepal dengan susu bubuk dan croffle (croissant waffle) yang sempat viral beberapa tahun lalu.

3. Proses operasional rumit yang tidak sebanding dengan volume penjualan

Banyak menu viral membutuhkan proses assembly (perakitan) yang rumit atau menggunakan bahan baku yang sangat spesifik yang tidak bisa digunakan untuk menu lain (dead stock). Saat hype turun, biaya operasional dan sisa bahan baku yang kedaluwarsa bisa langsung menguras arus kas Anda.

4. Bukan berasal dari kebiasaan makan konsumen

Coba lihat apakah menu tersebut berpotensi dikonsumsi 2–3 kali seminggu oleh konsumen yang sama? Menu yang berumur panjang biasanya merupakan modifikasi dari comfort food, misalnya ayam goreng, sambal, atau olahan mi.

Ciri-ciri makanan viral yang potensial dijadikan bisnis

Meski banyak tren kuliner bersifat sementara, sebagian tren sebenarnya memiliki fondasi yang cukup kuat untuk dikembangkan menjadi bisnis jangka panjang. Berikut beberapa cirinya:

1. Tren merupakan kreasi dari comfort food yang di-upgrade

Tren yang langgeng jarang sekali menciptakan rasa atau bentuk yang benar-benar baru dari nol. Biasanya, tren ini adalah evolusi dari makanan yang sudah familier di lidah masyarakat seperti comfort food atau street food, tapi dikemas dengan sentuhan modern.

Misalnya ubi Cilembu panggang yang diolah menjadi dessert dengan sentuhan cream cheese atau es krim, donat dengan adonan sourdough dan topping premium, hingga ayam geprek dengan tambahan topping keju mozzarella.

Tips UFS: Untuk mengembangkan menu dengan karakter serupa, Anda dapat mengambil inspirasi dari tren Street Food Couture dalam Future Menu 2026 yang mengangkat comfort food dan street food favorit menjadi hidangan dengan kualitas bahan, rasa, dan penyajian yang lebih premium.

2. Memiliki efek adiktif yang memancing konsumen untuk melakukan repeat order

Makanan viral yang mampu bertahan lama cenderung melibatkan elemen rasa yang memicu craving harian, seperti rasa pedas, gurih yang intens, manis-creamy, atau tekstur garing. Hal ini bisa memancing konsumen melakukan repeat order. Contohnya, kopi susu gula aren, ayam geprek, cireng bumbu rujak, dan bakso goreng.

3. Berbasis bahan utama yang serbaguna atau high versatility

Cek dapur dan supply chain-nya. Tren yang berpotensi tahan lama biasanya menggunakan bahan baku utama yang fleksibel dan mudah dimodifikasi menjadi berbagai varian menu turunan di masa depan. Misalnya mi, daging ayam, tepung-tepungan, hingga umbi-umbian.

4. Efisiensi operasional tinggi

Tren kuliner yang langgeng biasanya memiliki sistem operasional yang dapat disederhanakan dan mudah direplikasi. Dengan proses produksi yang bisa distandardisasi lewat sistem mise en place [1] [2] yang matang, kualitas produk akan lebih konsisten meski dibuat oleh kru dapur yang berbeda.

Inspirasi Makanan Viral yang Sukses Bikin Antre

Sebelum membangun strategi, berikut beberapa makanan viral yang sukses menarik antrean panjang dan dapat menjadi sumber inspirasi bagi pelaku usaha F&B.

Dok. UFS (resep batagor kribo)

1. Batagor

Meski bukan menu baru, batagor yang viral dan sukses bikin antre justru menjadi bukti bahwa jajanan kaki lima yang akrab di lidah punya daya tarik dan cenderung menjadi produk yang dibeli secara rutin oleh konsumen.

Di Bandung, batagor hadir dalam berbagai inovasi, mulai dari batagor kuah, batagor dengan mi instan, hingga versi premium dengan cita rasa ikan yang lebih dominan.

Seperti yang terlihat pada foto, ada variasi cromboloni yang merupakan perpaduan croissant dan bomboloni.

2. Cromboloni

Fenomena cromboloni [1] [2] juga menunjukkan bagaimana inovasi sederhana dari produk bakery yang sudah dikenal luas mampu menciptakan hype besar. Perpaduan croissant dan bomboloni dengan isian berlimpah berhasil menarik perhatian konsumen, terutama karena visualnya yang menarik di media sosial.

3. Donat

Berangkat dari camilan klasik donat, berbagai donat yang viral di kota besar hadir dengan inovasi adonan dan topping yang unik. Misalnya, donat sourdough di Bandung, donat pisang yang sempat viral di Semarang, hingga berbagai kedai donat dengan topping unik yang selalu ramai pengunjung di kawasan Blok M, Jakarta Selatan.

Dok. UFS (resep burger gandum)

4. Burger

Burger artisan menjadi salah satu contoh tren yang berhasil bertahan lebih lama dibanding makanan viral musiman. Banyak gerai burger lokal sukses memadukan teknik memasak modern, penggunaan daging berkualitas, dan branding yang kuat.

5. Banana cake atau bolu pisang

Banana cake dengan isian cream cheese dan tambahan butter masih menjadi salah satu oleh-oleh viral yang diminati konsumen. Kue ini merupakan contoh produk yang berhasil melampaui fase viral karena sesuai dengan kebiasaan konsumsi masyarakat, terutama sebagai camilan pendamping saat ngopi atau ngeteh.

6. Ayam goreng rempah

Ayam goreng dengan berbagai bumbu rempah menjadi bukti bahwa menu berbasis comfort food selalu memiliki pasar yang luas. Sejumlah rumah makan di Bandung, Jakarta, hingga Surabaya berhasil menciptakan antrean panjang berkat perpaduan resep tradisional dan pemanfaatan media sosial.

Contoh Bisnis Makanan Viral yang Langgeng

Tak hanya populer sebagai makanan viral yang mendatangkan keuntungan sesaat, beberapa menu berikut sukses mentransformasi hype menjadi bisnis berskala besar yang langgeng.

Dok. UFS (resep ayam geprek)

1. Ayam geprek

Konsep ayam goreng berbalut tepung dan disajikan dengan sambal pedas dan nasi hangat sangat familier dengan keseharian masyarakat Indonesia. Dengan harga yang relatif terjangkau dan porsi yang mengenyangkan, ayam geprek konsisten sebagai salah satu kuliner terlaris sejak populer hingga saat ini.

2. Seblak

Jajanan khas Sunda yang populer di Bandung dan wilayah Jawa Barat lainnya ini terus berinovasi mengikuti tren. Dimulai dengan seblak cobek, seblak ceker, seblak instan, hingga munculnya kedai seblak berkonsep prasmanan.

Dok. UFS (resep rice bowl teriyaki)

3. Rice bowl

Keunggulan rice bowl terletak pada fleksibilitas menu. Satu basis nasi dapat dikombinasikan dengan berbagai protein seperti ayam, sapi, telur, seafood, hingga menu vegetarian. Variasi inilah yang membuat konsep rice bowl mampu terus beradaptasi mengikuti tren tanpa kehilangan peminatnya.

4. Mi dengan level pedas

Segmen penyuka mi pedas cukup luas terutama di kalangan generasi muda sebagai comfort food. Variasi topping dan level pedasnya menjaga rasa penasaran dan memancing craving konsumen. Dengan potensi repeat order yang tinggi dan harga terjangkau, olahan mi pedas ini sukses memancing pebisnis skala kecil hingga besar untuk ikut mengadopsi.

Dok. UFS (resep sate taichan)

5. Sate taichan

Konsep street food sate ayam ini terus berinovasi pada sambal dan penyajian. Sate taichan masih masuk dalam daftar masakan kaki lima yang disukai kalangan muda hingga saat ini. Dengan harga terjangkau, visual menarik, dan variasi kreasinya, sate ayam yang awalnya populer di Jakarta ini kini sukses jadi bisnis potensial di kota lain.

6. Olahan saus mentai

Demam saus mentai sempat bermula dari sushi dan rice bowl, namun kemudian berkembang ke berbagai kategori produk seperti pasta, dimsum, kentang goreng, hingga aneka camilan. Keberhasilan tren ini menunjukkan bahwa elemen rasa dapat menjadi tren tersendiri.

Strategi Mengubah Tren Menjadi Bisnis yang Tahan Badai

Tren kuliner datang dan pergi dalam hitungan bulan. Yang bertahan adalah mereka yang bisa mempertahankan bisnis tetap ramai meski hype-nya sudah habis. Anda bisa mengikuti strategi berikut untuk mengubah tren makanan viral menjadi bisnis yang tahan badai:

1. Validasi tren sebelum berinvestasi

Sebelum membuka bisnis atau meluncurkan menu baru hanya karena sedang viral, lakukan validasi terlebih dahulu:

  • Amati tren selama minimal 4–8 minggu sebelum memutuskan untuk berinvestasi.
  • Cek apakah tren ini lokal, nasional, atau global. Lalu, tentukan, mana yang lebih relevan untuk target pasar Anda.
  • Hitung angka dasarnya: berapa biaya produksi, berapa harga jual ideal, dan seberapa cepat Anda bisa balik modal.
  • Tanyakan pada diri sendiri: apakah produk ini masih akan relevan untuk 2–3 tahun ke depan?

2. Ciptakan produk utama yang kuat

Kesalahan terbesar pebisnis F&B adalah menjadikan produk viral sebagai produk utama. Strategi yang lebih bijak adalah menentukan 1-3 menu utama yang menjadi fondasi bisnis Anda dan bisa bertahan lama.

Gunakan menu viral sebagai limited edition atau menu spesial musiman yang bisa dikeluarkan saat liburan panjang, paket bundling, atau momen musiman seperti nobar sepakbola, Valentine, atau tahun baru. 

3. Diversifikasi produk sebelum tren turun

Hindari omzet turun akibat terlambat melakukan diversifikasi produk. Produk makanan viral Anda bisa diperluas menjadi produk turunan, misalnya versi frozen food, saus kemasan, hingga camilan.

Contohnya, Anda yang berbisnis ayam geprek, coba kembangkan sambal kemasan siap saji. Untuk yang punya bisnis cuanki, coba hadirkan produk frozen food, sementara usaha seblak dapat menjual versi instan dan dipasarkan secara online.

4. Bangun identitas merek yang kuat

Bangun identitas yang jelas sejak awal, mulai dari konsep produk, cerita brand, desain kemasan, hingga pengalaman pelanggan. Brand yang memiliki karakter kuat akan lebih mudah diingat, direkomendasikan, dan bertahan menghadapi perubahan tren pasar.

5. Bangun loyalitas lewat kualitas produk dan strategi pemasaran

Fokuslah pada customer retention dengan menjaga konsistensi kualitas produk. Selain itu Anda juga dapat mengimplementasikan promo diskon untuk momen khusus seperti liburan sekolah, nobar, atau long weekend

6. Investasi pada sistem dan SDM

Banyak bisnis kuliner viral kolaps bukan karena produknya tidak laku, melainkan karena sistem operasionalnya tidak siap menangani lonjakan permintaan. Anda dapat berinvestasi lewat SOP restoran yang jelas, sistem manajemen stok, training staf secara berkala, hingga mengandalkan teknologi untuk mengelola transaksi, inventaris, dan keuangan.

Tips UFS: Saat bisnis mulai berkembang, menjaga konsistensi rasa menjadi salah satu tantangan terbesar, terutama ketika jumlah staf bertambah atau outlet semakin banyak. Menggunakan bumbu dengan profil rasa yang konsisten seperti Knorr Chicken Seasoning Powder atau Royco Bumbu Pelezat Serbaguna Rasa Ayam dapat membantu mempermudah standardisasi resep, mempercepat proses training karyawan baru, serta meminimalkan perbedaan kualitas antar outlet. Dengan begitu, operasional dapat berjalan lebih efisien seiring meningkatnya volume pesanan.

Bisnis F&B yang tahan badai adalah yang mampu mengubah momen viral menjadi cerita brand yang terus diceritakan, bukan sekadar antrean yang terlupakan begitu tren berlalu. Tren kuliner akan terus datang dan pergi, dari jajanan yang viral sepekan hingga fenomena makanan yang bertahan bertahun-tahun. Yang membedakan pebisnis F&B sukses dari yang gagal bukan seberapa cepat mereka mengikuti tren, melainkan seberapa cerdas mereka mengonversi momen tren menjadi fondasi bisnis yang kokoh.

Home
Produk
Resep
Cart
Menu