Menu

Saya bekerja di...

Lanjutkan

Konten sedang disesuaikan
berdasarkantipebisnis Anda

Para peserta UFS Culinary Trip 2026 berfoto bersama di depan bangunan berarsitektur Jawa di kota Kudus.

Empat hari, sebelas kota, dan satu perjalanan yang dimulai dari pertanyaan sederhana: dari mana sebuah rasa mendapatkan karakternya? Unilever Food Solutions Culinary Trip 2026 membawa para chef terbaik Indonesia keluar dari dapur profesional, masuk ke pasar, rumah produksi, warung makan, hingga gang-gang kota untuk mencari jawabannya langsung dari orang-orang yang menjaga kuliner Nusantara tetap hidup.

Perjalanan dimulai di Semarang, bergerak melewati Kudus, Pati, Lasem, Rembang, Blora, Ngawi, Madiun, Magetan, dan Wonogiri, lalu berakhir di Solo. Rombongan ini mempertemukan Chef Arief Rachman, Chef Maxie Millian, Chef Mili Hendratno, Chef Ivan Leonard (Hotel Tentrem), Chef Wiem Kahyang Isha (Brother Chang), Chef Ary Suprihartanto (Tavern Group), dan Chef Patrick Ramon (Akasta).

Turut bergabung Chef Fernando Sindu (Union Group), Chef Jovan Koraag (Mata Karanjang), Chef Azmi Fakhrusy (Bumi Aki Group), Chef Theodore Darrel (Tide & Table), Chef Rafael Basanto (BIKO Group), Chef Leonardus Aditya (TAMU), serta Chef Wiro (Fred's Chicken, SEBA, dan Tworubber).

Perjalanan ini juga diikuti Chef Rik Rik Solehudin (Sous Chef UFS Indonesia), Ade Putri (Culinary Storyteller), Chef Ray Janson, serta Narendra Archie Prameswara (Professional Chef, Food Consultant, and Storyteller). Latar belakang mereka berbeda, tetapi semuanya datang untuk membaca rasa kuliner Nusantara dari tempatnya tumbuh, lalu melihat peluangnya bagi dapur masa kini.

“Kami ingin para chef memahami tren Future Menu yaitu Culinary Roots dan Streetfood Couture langsung dari sumbernya, datang ke daerah asalnya, bertemu pelaku kuliner lokal, dan mencicipi makanannya. Harapannya, pengalaman ini dapat memperkaya pemahaman mereka tentang kuliner Indonesia dan menjadi inspirasi untuk karya mereka berikutnya,” kata Raditya Beer, Country Marketing Manager UFS ID.

Menjelajah Kuliner Nusantara Melalui Culinary Trip 2026

Setiap daerah memiliki bahasa rasa sendiri. Intensitas rempah, teknik mengolah bahan, pilihan condiment, hingga cara sebuah hidangan disajikan sering kali dipengaruhi oleh sejarah, lingkungan, dan kebiasaan masyarakatnya. Saat chef mencicipi hidangan di tempat asal, detail-detail tersebut menjadi lebih mudah dibaca.

Pertemuan dengan penjaga resep dan pelaku kuliner lokal juga membantu chef memahami alasan di balik setiap langkah. Mengapa bumbu harus ditumis sampai tahap tertentu? Tekstur seperti apa yang dianggap tepat? Komponen mana yang berubah mengikuti musim, dan mana yang tidak boleh diganti? Jawaban atas pertanyaan tersebut menjadi bekal saat hidangan akan dikembangkan.

Hari pertama: Membaca rasa dari rutinitas Semarang dan Kudus

Penjual gudeg menyiapkan lauk dan sayur dalam deretan panci di sebuah warung di Semarang.

Pagi pertama dibuka dengan gudeg di Semarang, dilanjutkan ke Pasar Gang Baru, lalu semangkuk asem-asem daging. Tiga pemberhentian ini memperlihatkan tiga lapisan kuliner kota: resep keluarga yang diwariskan, pasar sebagai ruang pertemuan bahan dan manusia, serta rumah makan yang bertahan karena rasa yang terus dicari pelanggan.

Di Pasar Gang Baru, pengetahuan tidak selalu tercatat dalam resep dengan gramasi yang rapi. Para pedagang mengandalkan pengalaman untuk memilih bahan, menilai kualitas, dan menanganinya dengan tepat. Keterampilan ini kemudian diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bagi para chef, mengamati ekosistem seperti ini sama pentingnya dengan mencicipi hasil akhir. Bahan yang sama dapat membawa karakter berbeda ketika tumbuh, dipilih, dan diperlakukan dalam konteks yang berbeda.

 

Potongan daging kerbau disiapkan di dalam panci untuk sajian khas Kudus.

Perjalanan kemudian bergerak ke Kudus. Pindang kerbau, sate kerbau, soto kerbau, jamu, dan nasi tahu telur menunjukkan bahwa identitas rasa sebuah kota terbentuk dari sejarah sekaligus kebiasaan makan sehari-hari. Penggunaan daging kerbau, misalnya, berkaitan dengan sejarah dan tradisi masyarakat Kudus, sehingga menjadi salah satu ciri khas kuliner kota ini.

[INSTAGRAM EMBEDDED] https://www.instagram.com/p/DZ6EoefTPk8/

Ada pula pelajaran bisnis yang terasa sangat dekat dengan keseharian operator restoran. Gudeg Bu Lasmi, Asem-Asem Koh Liem, Soto Ayam dan Kerbau Bu Djatmi, hingga Sate Kerbau 55 Pak Tokip mempertahankan rasa yang dicari pelanggan dari waktu ke waktu. Konsistensi inilah yang membuat pelanggan terus kembali dan menjadikan tempat-tempat tersebut bagian dari kebiasaan makan mereka.

Hari kedua: Menemukan teknik dan cerita di balik hal yang terlihat sederhana

Berbagai bahan nasi opor dan garang asem tersaji dalam wadah di warung makan Kudus.

Hari kedua dimulai dengan nasi opor dan garang asem Sunggingan di Kudus, lalu berlanjut ke nasi gandul di Pati. Bahkan hal kecil seperti gulungan tisu yang digantung di atas meja menyimpan logika operasional: mudah dijangkau pada meja panjang dan tidak cepat basah terkena kuah. UFS Culinary Trip 2026 mengingatkan bahwa inspirasi restoran juga dapat ditemukan dari cara tempat makan memahami perilaku tamunya.

Di Lasem, para chef melihat tempe dibungkus daun jati di Omah Tempe Mbah Masrifah. Daun tersebut berfungsi sebagai kemasan sekaligus memberi aroma khas. Pengetahuan produksi inilah yang terus dipertahankan lintas generasi. Kunjungan ke produsen terasi Harta Laut di Desa Bonang juga memperlihatkan hal serupa: karakter bahan dibentuk oleh proses, lokasi, keterampilan, dan waktu.

Tempe berbungkus daun jati diperlihatkan saat kunjungan ke rumah produksi di Lasem.

Pelajaran itu terasa semakin jelas saat rombongan menikmati ikan asap Bu Sri di tepi ladang garam. Hidangannya tidak membutuhkan banyak manipulasi. Kesegaran ikan, teknik pengasapan, dan suasana tepi ladang garam membentuk pengalaman makan yang khas. Sementara itu, kebiasaan memotong ayam dengan gunting pada sejumlah warung menunjukkan bagaimana teknik lokal sering berkembang dari kebutuhan yang sangat praktis: mempercepat penyajian tanpa menambah tahapan kerja.

[INSTAGRAM EMBEDDED] https://www.instagram.com/p/DZ8tVldomHT/

Lasem juga memperluas pembacaan para chef terhadap rasa. Jejak budaya Jawa, Tionghoa, dan Islam hidup berdampingan dalam arsitektur, batik, perdagangan, serta dapurnya. Perjumpaan budaya di sini tidak menghapus identitas. Justru dari lapisan-lapisan tersebut lahir karakter yang hanya dimiliki Lasem.

“Banyak banget makanan yang ada back story-nya,” kata Chef Ray Janson. Cerita itu membantu chef memahami mengapa sebuah bahan, teknik, atau kebiasaan makan terus dipertahankan oleh masyarakat setempat.

Hari ketiga: Dari seporsi sate hingga rasa yang menggerakkan komunitas

Penjual menyiapkan sate serepeh di warung tradisional di Rembang.

Setelah sarapan sate serepeh di Rembang, perjalanan bergerak menuju Blora. Di Sate Pak Daman, para chef melihat bagaimana karakter sajian dibangun dari pemilihan daging, ukuran potongan, racikan bumbu, tingkat pembakaran, hingga penyajian. Detail tersebut membuat Sate Pak Daman tetap dikenali sebagai bagian dari kuliner Blora.

Pengalaman di Blora menunjukkan bahwa menjaga tradisi tidak berarti menutup ruang bagi ide baru. “Respect the tradition, but keep innovating,” ujar Chef Fernando Sindu. Akar rasa tetap menjadi patokan, sedangkan inovasi dapat diterapkan pada format, penyajian, ataupun pengalaman makan.

Dari Blora, rombongan melanjutkan perjalanan ke Ngawi untuk mencicipi pecel lethok, lalu ke Madiun dan Magetan. Di Madumongso Cap Tawon, Pak Popon dan Bu Eva masih terlibat langsung dari proses produksi dodol dan brem hingga distribusinya. Hal ini menunjukkan bahwa standar tertulis tetap perlu diikuti dengan pengawasan sehari-hari agar setiap tahap produksi dijalankan secara konsisten.

Ayam panggang dimasak di atas tungku kayu saat kunjungan kuliner di Magetan.

Malam di Magetan ditutup dengan ayam panggang Bu Setu, garang asem, ayam lodho, botok, dan pelas. Usaha Bu Setu juga membuka peluang bagi tetangga untuk menjual hidangan serupa. Perkembangan ini menunjukkan bagaimana makanan lokal dapat menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat sekitar.

[INSTAGRAM EMBEDDED] https://www.instagram.com/p/DZ_YOVmo-VW/

Rute yang panjang memberi para peserta banyak waktu untuk bertukar pandangan. Setiap temuan dibaca dari sudut yang berbeda, mulai dari potensi bisnis dan pengalaman pelanggan hingga cerita budaya serta kesiapan eksekusi di dapur. Diskusi inilah yang membantu para chef melihat apa yang dapat dikembangkan, apa yang perlu diuji kembali, dan apa yang sebaiknya tetap dipertahankan.

Hari keempat: Belajar mengapa sebuah rasa bisa bertahan puluhan tahun

Penjual meracik pecel untuk pelanggan di warung pecel Madiun.

Pagi terakhir dimulai dengan pecel Yu Gembrot di Madiun. Sambal kacangnya masih dibuat dari resep yang digunakan sejak warung berdiri pada 1967. Pecel Yu Gembrot bertahan karena memiliki identitas rasa yang jelas, konsisten, dan dipercaya pelanggan selama puluhan tahun.

Di Wonogiri, prasmanan Pak To mempertahankan botok mlanding dan sambal cabuk yang semakin jarang ditemukan. Perjalanan kemudian berlanjut ke Sukoharjo untuk melihat jenang Kedunggudel diolah di atas tungku kayu dan wajan besar, sebelum ditutup dengan Roti Widoro, roti legendaris sejak 1922 yang masih diproduksi ribuan buah setiap hari dan dijual dari rumah produksinya.

[INSTAGRAM EMBEDDED] https://www.instagram.com/p/DaCQvkgI4Xr/

Menu-menu tersebut bertahan karena tahu bagian mana yang perlu dijaga. Namun, saat dibawa ke konteks restoran modern, chef tetap perlu membaca kebutuhan pelanggan. “Lihat dulu ini market-nya segimana sih, suka atau enggak,” kata Chef Wiro.

Teknik dapat dibuat lebih efisien dan format penyajian bisa disesuaikan, tetapi rasa yang menjadi alasan pelanggan kembali harus tetap dikenali.

Menyelami Inspirasi dari Culinary Trip 2026 untuk Pengembangan Menu Restoran

Bagi dapur profesional, nilai utama perjalanan ini terletak pada cara membaca inspirasi dengan lebih tajam. Hidangan yang dicicipi menjadi titik awal untuk memahami rasa, teknik, dan cerita yang membuatnya bertahan. Karena itu, sebelum mengembangkan sebuah hidangan, tentukan lebih dulu karakter yang harus tetap dikenali. Ruang inovasi baru dibuka setelah profil rasa, tekstur, teknik, dan konteks budayanya dipahami.

Bahan masak dan produk UFS disiapkan di meja kerja untuk pengembangan menu.

1. Mulai dari alasan sebuah hidangan bertahan

Cari tahu alasan pelanggan terus kembali. Apakah karena rasa yang konsisten, fungsi hidangan dalam keseharian, kaitannya dengan momen tertentu, atau kepercayaan kepada orang yang membuatnya. Dari sini, chef dapat menentukan elemen yang perlu menjadi pusat kreasi.

2. Baca teknik bersama konteksnya

Daun jati pada tempe, gunting untuk mempercepat pemorsian ayam, tungku kayu untuk jenang, serta asap pada ikan memiliki fungsi yang berbeda. Sebelum mengganti teknik memasak tradisional, pahami dahulu kontribusinya terhadap aroma, tekstur, kapasitas produksi, dan pengalaman pelanggan.

3. Bedakan akar rasa dan ruang inovasi

Tetapkan dua atau tiga penanda utama yang membuat hidangan tetap dikenali, seperti profil bumbu, teknik pembentukan rasa, atau tekstur khas. Setelah itu, inovasi dapat diarahkan pada format, porsi, plating makanan, waktu penyajian, maupun alur produksi. Pendekatan ini menjaga kreasi tetap relevan tanpa menjauh dari sumber inspirasinya.

4. Ubah inspirasi menjadi sistem

Ide menu bisa datang dari mana saja, tetapi tetap perlu diterjemahkan ke dalam standar kerja yang dapat diikuti seluruh tim. Catat formula, yield, tingkat kematangan, holding time, dan standar plating. Uji juga prosesnya saat servis untuk melihat apakah menu tetap dapat disajikan dengan baik ketika pesanan sedang padat.

Pilihan produk pendukung perlu masuk ke dalam standar tersebut. Chef Arief Rachman merekomendasikan Bango Kecap Manis untuk membangun rasa manis-gurih khas masakan Indonesia dan Knorr Chicken Seasoning Powder untuk menjaga konsistensi kaldu serta seasoning.

Chef Maxie Millian memilih Knorr Rostip untuk memberikan karakter roasted, gurih, dan aroma bawang putih pada menu berkuah, tumisan, maupun panggangan. Sementara itu, Knorr Demi Glace Sauce Mix menjadi pilihan Chef Mili Hendratno saat membuat saus dasar untuk menu semi-western yang membutuhkan proses lebih praktis dan hasil konsisten.

Dokumentasi yang rinci membantu tim menjaga karakter menu dari satu penyajian ke penyajian berikutnya.

5. Bangun menu bersama cerita dan orang-orang di belakangnya

Sebutkan sumber inspirasi secara jujur dan tetap libatkan pelaku lokal saat proses pengembangan jika memungkinkan. Hubungan ini memberi chef konteks yang lebih kaya sekaligus membantu restoran menyampaikan cerita menu dengan lebih bertanggung jawab.

Ingin melihat bagaimana temuan lokal diterjemahkan menjadi inspirasi menu?
Download UFS Future Menu E-Magazine 2026 untuk menemukan insight, teknik,
serta ide resep yang dapat dikembangkan di dapur restoran Anda.

Culinary Roots & Streetfood Couture: Membawa Warisan Kuliner Nusantara Terus Bergerak

Dalam Future Menu 2026, Culinary Roots menempatkan warisan kuliner sebagai titik awal pengembangan menu. Setiap hidangan memiliki bahan, teknik, profil rasa, dan cerita yang membentuk identitasnya.

Hal ini berjalan seiringan dengan Streetfood Couture, tren yang menyoroti keterampilan chef, proses di balik sajian, dan kebanggaan terhadap kuliner daerah. Dengan memahami kedua sisi tersebut, chef dapat menentukan karakter yang perlu dijaga serta bagian yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan restoran dan selera pelanggan hari ini.

“Bagi UFS Indonesia, Culinary Roots bukan hanya merayakan kekayaan kuliner Indonesia, tapi tentang melihat potensinya untuk terus berkembang. Ketika akar yang kuat bertemu dengan kreativitas chef, hidangan lokal dapat diangkat menjadi inovasi baru yang relevan bagi konsumen masa kini,” jelas Raditya Beer, Country Marketing Manager UFS Indonesia.

Culinary Trip 2026 tidak berhenti di kota terakhir. Bekal yang dibawa pulang para chef akan menemukan bentuk baru melalui menu kolaborasi bersama UFS. Setiap menu dikembangkan dengan karakter dapur masing-masing chef dan disajikan sebagai limited-time offer, sehingga pelanggan dapat ikut menikmati jejak rasa dari perjalanan ini.

Di sinilah filosofi “Rasa Nusantara untuk Masa Depan” bergerak dari gagasan menjadi sajian: berangkat dari pengetahuan para penjaga rasa, dibawa ke dapur para chef, lalu diteruskan kepada pelanggan melalui kreasi baru.

Home
Produk
Resep
Cart
Menu